Selasa, 22 Juli 2008

Krisis : Cinta, Menikah, Pasangan Hidup, Intimacy

Next Crisis : Love Crisis
Memilih pacar/ kekasih/ calon suami/ calon istri, ternyata sama complicatednya seperti masa-masa mencari pekerjaan waktu baru lulus sarjana dan wisuda. Banyak kriteria yang harus dipenuhi sebelum akhirnya mendapatkan seseorang yang memang pas untuk dijadikan teman hidup dan bisa dijadikan pilihan terakhir untuk membangun rumah tangga.
Banyak masalah yang muncul dalam kisah percintaan dan cinta akan selalu menjadi topik hangat yang nggak akan pernah basi.
Krisis ada berbagai bentuk dan tipenya, ada yang gara-gara cinta bisa krisis percaya diri, krisis identitas diri, dan juga krisis dompet karena cinta.
Yang belum punya pacar, bakal merasa desperado dan krisis pede, karena kok nggak laku-laku.
Yang udah pacaran sampe 8 tahun, bakal bingung dan krisis keyakinan sama pasangannya, karena kok nggak ada tanda-tanda bakal dinikahi.
Yang punya sahabat dan sahabatnya udah pada nikah bahkan udah gendong balita, jadi mulai berfikir apa something wrong dengan nya ya kok dia belum juga ada tanda-tanda menikah.
Yang pacaran beda agama, mulai pusing karena mau nentuin pemberkatan dimana kok nggak ketemu ketemu titik temunya.
Yang pacaran backstreet, mulai desperado karena kok nggak worth it juga untuk dipertahankan tuh hubungan.
Dan berbagai krisis lainnya. Biasanya krisis muncul karena :
1. Sengaja/ Nggak sengaja membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Khususnya, ketika mantan pacar udah kirim undangan nikah, naluri cemburu amarah pun bangkit, shit, kenapa kok dia udah ngeduluin gue!
2. Nggak dapet-dapet pacar. Akhirnya jadi menghukum diri sendiri kalau dirinya ini memang payah dan nggak laku dan memang pantas nggak dapet pacar.
3. Ortu nggak merestui. Nggak punya pacar dibilang nggak laku, pas udah punya pacar dan cocok eh belum selesai juga karena ortu nggak suka. Kadang dengan alasan klise : kayaknya nggak ok deh pacar kamu tuh. Dan kalau ortu udah omong A, kita sebagai anak harus ikutin, biasanya ortu akan bilang : ortu tuh udah makan asam garem, jangan ngelawan deh, daripada nyusahin diri sendiri dan orang lain nantinya.
4. Takut disakiti, takut gagal, apalagi begitu banyak berita kegagalan percintaan artis selebritis, kurang apalagi coba, udah sama sama cakep kaya, sama agama, tapi bisa gagal juga, apalagi orang biasa??? Trauma kegagalan perkawinan orang tua pun bikin takut untuk menjalin hubungan lebih jauh lagi.
5. Hati berkata enakan being single karena bebas dan bisa puas nikmatin hidup, tapi suara besar selalu bilang nikah itu enak, melihat pesta pernikahan megah bawaannya jadi pingin nikah juga, enak kali ya kalau tiap pagi di samping kita udah ada yang temenin juga.
So, welcome to a love crisis...
Fase yang sangat menyenangkan di usia 25an tahun ini supaya lebih dewasa dan mateng lagi, memang perlu ada krisis...

Tidak ada komentar: